Missed Connection

Belakangan aku ketahui, senjata yang lebih mematikan daripada bom nuklir sekalipun, adalah senyum yang dihadiahkan tanpa keraguan.

Agaknya saat itu semesta tengah mati kebosanan hingga ia memutuskan untuk bermain-main dengan dua manusia random yang sedang berjalan berlawanan arah di trotoar basah yang menguarkan bau hujan, pada hari minggu, di pinggiran kota yang penuh sesak oleh pejalan kaki dan deru kendaraan yang menyakitkan gendang telinga.

Mataku masih terpaku lekat pada buku yang sejak turun dari bus tadi masih kubolak-balik halamannya, aku berjalan sambil komat-kamit, menghindari orang-orang yang berjalan berlawanan arah tanpa kesulitan. Kata Ibu, itu adalah bakat yang telah ku asah sejak kecil, berjalan sambil membaca, lebih tepatnya, melakukan apapun sambil membaca.

Aku telah berada di paragraf terakhir halaman 512 ketika ekor mataku menangkap sebuah bayangan, aku menengadah, pada saat yang bersamaan lelaki itu memalingkan wajah dari telepon genggamnya, menatapku.

Ia berhenti selama sekian milidetik, tersenyum tanpa aba-aba, kemudian melanjutkan perjalannya kembali segera setelah aku tersadar dan membalas sapaan tersiratnya.

Semesta ini lucu, pikirku sambil menggelengkan kepala, kemudian aku mempercepat langkah sambil mendekap buku di dada, yang saat ini berdebar bak kesetanan.

A Perfectly Ruin Allegory

Terlambat, butir air mataku pecah sebelum aku mampu membalikkan badan, hening, bahkan tangisku pun tanpa isak. Kamu berdiri mematung untuk sepersekian detik lalu tanpa ragu berjalan hingga menjadi sebuah titik di kejauhan, bahkan tanpa melirik melalui sudut bahumu.

Sepenuhnya salahku, yang menghamba pada kita, dan pongahnya aku berharap untuk selamanya,karena dalam sekian milisekon kedipan mata, ribuan hari yang kita habiskan untuk menulis alegori sempurna tentang kita begitu saja menjadi reminisensi yang enggan untuk sekedar kita putar ulang, bukan perihal jengah, karena setiap bait nya begitu indah, hingga takut sekonyong-konyong aku akan berlari mengejarmu dan memohon kepadamu agar tidak begitu saja merela.

Lalu kalimat perpisahan mana yang lebih ironis dari “sampai jumpa nanti” yang aku ucap lamat-lamat dari bibirku yang bergemeteran hebat dan gigi geligi yang mengetuk keras, alih-alih kalimat klasik “selamat tinggal”? Bukan karena tak mau namun karena tak mampu, apa yang lebih menyakitkan daripada perpisahan semacam itu?

YOUphille

Aku pernah merasaimu teramat sangat dalam, umpama tartarus, yang bahkan dewa dewi pun tak tahu berapa ribu mil jauhnya dalam perut bumi, aku menghujanimu dengan banyak rasa yang kamu payungi dengan acuh, kemudian kamu berbalik memunggungiku yang hingga ratusan hari kemudian masih menatap kosong berharap kamu akan muncul kembali, meski hanya sepersekian detik dalam lapang pandangku. Namun aku terlalu naif.

Suatu ketika, dulu sekali.

Kini, ribuan hari setelah masa itu berita tentang dirimu melayang seringan debu masuk ke liang telingaku, menggelitik memori-memori masa lampau itu, kamu telah menjatuhkan hati, kabarnya. Setelah puluhan purnama aku pikir aku akan baik-baik saja, dungunya aku, nyatanya gadis yang dulu hanya bisa menatap punggungmu yang berjalan menjauh itu masih berdiri di tempat yang sama, tak pernah beranjak barang satu milimeterpun.

Aku masih merasaimu teramat sangat dalam, dengan debar yang sama, dan lara yang sama. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali itu, sejak kalimat perpisahan yang sekonyong-konyong keluar dari bibirmu menghantam tepat di dadaku, “kamu sangat baik, teramat baik” ujarmu sambil menarik seutas senyum pahit dan helaan nafas yang aku rasakan lebih berat dari biasanya.

Satu hal yang tak lagi aku lakukan adalah bertanya-tanya mengapa, tak lagi mencoba mencari tahu sebab apa-apa, tak lagi menjawab suara-suara menuduh yang bergaung dalam kepala. Pada akhirnya, aku tetap tak pernah mampu merela, sama halnya dengan melupa.

Tujuh Ratus Delapan Belas

Sebab telah kupasrahkan dengan serta merta seluruh bongkahan hatiku, bahkan sejak jejas-jejas yang dulu membuatnya hancur berkeping-keping masih terasa amat sangat pilu.

Sebab telah ku pertaruhkan perjudian terakhirku dengan Aphrodite, sejak aku menapakkan kembali kakiku, meski babak belur, setelah lama terkapar karena dihantam habis-habisan olehnya.

Atas segala sebab musabab yang karena nya adalah kamu, aku tak lagi mengutuki diri sendiri, tak lagi membuang-buang air mata karena patah hati, tidak lagi bertanya-tanya bagaimana jika nanti, seperti sebelumnya dan sebelumnya lagi harapku hanya bisa mengekormu berbalik punggung dan pergi.

Bukan hanya sebatas perkara untuk mampu melupa, yang rasanya pun tak akan dapat aku telantarkan begitu saja. Ini perkara tujuh ratus delapan belas hari yang terbiasa aku jalani setiap detiknya bersamamu lalu aku simpan dalam bentuk pita-pita memori dalam kepalaku. Lebih dari itu, ini adalah perkara utopia yang sedang ku ciptakan sendiri jalannya.

Enam Ratus Delapan Puluh Delapan

Untuk sesaat aku terlampau congkak, memekikkan ke telinga seisi alam bahwa lagu ini, yang aku mainkan nada demi nada nya bersamamu ini, adalah lagu terbaik yang kita komposeri bersama.

Aku menengadahkan dagu penuh keangkuhan, dilempari sanjungan yang tak henti-henti nya mengembangkan lubang hidung. Sampai kemudian lagu ini tak lagi terdengar sama.

Tak lagi bernada gembira, dengan tempo cepat dan menggebuk-gebuk gendang telinga pendengarnya, temponya perlahan turun dengan denting-denting yang menyayat hati. Yang lebih menyakitkan adalah kita yang tetap berpegang pada instrumen masing-masing, membolak balik partitur di hadapan kita, menatap penuh kebingungan, tak punya pilihan lain selain tetap memetik dawai.

Yang paling kejam adalah, komposer yang tak kasat mata itu seolah tak peduli, ia tetap menggerak-gerak kan tangan memberi aba-aba, seakan memberi pelajaran akan keangkuhan kita. Juga para pendengar yang tetap riuh bertepuk tangan tanpa mempedulikan sang pemain musik yang telah basah pipinya.

Aku dengan dungu nya menangisi enam ratus delapan puluh delapan hari yang rasanya percuma. Beratus hari setelah masa ini, kita komposeri rhapsody kita sendiri, janjimu.

Enam Ratus Lima Puluh Delapan

And I’m telling you, I’m not going…

Meski di kemudian hari bumi bangkit murkanya lalu ia meluluh lantakkan jalanku menuju pulang, menghasut pikiranku yang lelah untuk menyerah agar berbalik memunggungimu.

Meski suatu saat nanti semesta tak lagi memberi restunya dan dengan semena-mena menampar wajahku keras dengan potongan-potongan hati yang dengan susah payah kita bentuk selama enam ratus lima puluh delapan hari.

Even though the rough times are showing

Bahkan ketika sungai yang terbentuk dari air mataku sendiri kemudian akan mencoba menenggelamkanku, dan cabang-cabang dari otakku semakin rimbun hingga membentuk rimba yang menyesatkanku.

Aku tetap akan pulang, menghadapi amukan ibu bumi, tak menghiraukan gema semesta.

I’m staying, and you, you’re gonna love me.

Enam Ratus Dua Puluh Delapan

Pada suatu momentum, ketika gondola kita berada pada puncaknya, otakku melonjakkan sinyal-sinyal listrik yang membuat jantungku memuntahkan darah ke tiap cabang arterinya lalu tanganku yang tremor ketakutan dengan sendirinya merayap mencari tanganmu, lalu pada momentum selanjutnya aku menghembuskan napas panjang tak memiliki alasan lain untuk tetap menggenggam tanganmu. Dulu, beratus hari sebelum ini.

Aku tak ingin kembali lagi ke dalam gondola itu, yang berputar pelan turun naik dengan jeda yang begitu lama hingga aku bisa kembali menguncikan jari-jari kecil milikku ke sela jarimu yang jangkung kurus namun berefek bak ganja, menenangkan luar biasa.

Kini, pada parade kita yang ke enam ratus dua puluh delapan, dalam roller coaster yang tak tampak muara relnya itu kita duduk berdampingan, tak ragu untuk menggenggam tanganmu ketika perlahan naik ke atas lalu sekonyong-konyong menukik tajam, pontang-panting ke kanan dan kiri, karena sepanjang perjalanan, jemariku akan tetap terkunci pada pasangannya.

Lelaki Bermata Satu

Kepada, Lelaki Bermata Satu…
Aku kembali terjebak di sini, di kereta Taksaka malam yang akan membawaku dari Jakarta ke Jogja. Persis seperti dulu, entah dua atau tiga tahun yang lalu, hanya saja saat itu aku terjebak bersamamu.

Masih lekat di kepalaku bagaimana awalnya aku menatapmu yang duduk di hadapanku dengan penuh rasa ingin tahu, bagaimana cerita dibalik mata kananmu yang dibalut dengan perban putih itu, atau cerita didalam carrier hitam besar yang baru saja kamu lepas dari punggungmu. Kamu lalu mendongak tepat menghujam satu matamu ke arahku, seakan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang hanya ku ucap dalam kepalaku, lalu kamu tersenyum.

Aku tak dapat mengingat awalnya, yang ku ingat kita berbincang layaknya teman yang sudah lama tak berjumpa, berbincang perihal tempat-tempat yang telah kamu jelajahi, yang bahkan belum pernah kudengar namanya, “mungkin di masa sebelum ini kita saling mengenal” ujarmu lirih hampir tak terdengar, aku tertawa.

“tak perlu dua mata untuk mengetahui keindahan dunia, kamu harus mencobanya sesekali” kata terakhirmu sebelum kamu kembali memikul carriermu dan berjalan keluar dari kereta.

Hai lelaki bermata satu, yang dulu berbagi pengalaman hidupnya denganku, namun baru-baru ini kusadari kita tak pernah bertukar nama. Semoga suatu hari nanti kita berjumpa kembali, saat itu, aku tidak akan mendengarkan petualanganmu saja, akupun kini memikul carrier yang serupa dengan milkimu, menyusuri dunia yang dulu kamu deskripsikan indah luar biasa, terima kasih.

 

Kepada Samudera

Kepada, Samudera di Karimunjawa…
Deburan ombak dan gradasi warna langit saat matahari terbenam kembali terputar dalam lekuk-lekuk otakku, bagai pita-pita film bisu yang menenangkan. Adalah satu objek yang paling terfokus oleh lensa tua dan berdebu dari film yang terputar sendiri tanpa komando itu, lelaki dengan sweater biru tua sewarna samudera dan celana panjang yang digulung hingga ke lutut.

Lelaki itu tengah membenamkan kakinya tanpa ragu ke dalam ragamu yang sore itu begitu tenang, “tahukah kamu kenapa samudera berwarna biru?” tanya lelaki itu mengusir keheningan, yang ku jawab hanya dengan dua kali gelengan, menatapnya dengan mata berbinar, lebih dari sekedar tatapan ingin tahu, aku terharu. Dia hanya balik menatapku, bibirnya terangkat membentuk sesimpul senyum, lalu ia menggantungkan lengannya di leherku.

Karena, Samudera, saat itu di kediamanmu di Karimunjawa, hatiku kembali jatuh, berulang-ulang kali pada lelaki yang sama sejak satu setengah tahun belakangan ini. Dan hari itu, Samudera, aku harap kamu merasa, lengan yang di gamit dengan tulus didalam airmu yang begitu sejuk, aku harap kamu mendengar, lantunan irama masa depan yang kami komposeri bersama di tepian pasir putihmu.

Jika kamu tahu, Samudera, rahasiakanlah dari semesta yang selalu igin tahu. Namun nanti ketika tiba saatnya, beritakanlah kepada dunia.

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑