Adakah yang Lebih Hebat Dari Hati Seorang Wanita?

Adakah yang lebih hebat dari hati seorang wanita?

Yang diciptakan begitu lembut hingga ia dapat merasai, namun tetap kuat meski telah disakiti berkali-kali.

Adakah yang lebih tegar dari hati seorang wanita?

Ketika ia tak ragu untuk bangkit kembali, meski telah dihajar melebihi ribuan kali kekuatan left uppercut Muhammad Ali.

Kini aku paham,

Bahwa hati yang hebat dan tegar itu tidak terbentuk dari perjalanan yang sederhana. Ia ditempa dari patahan-patahan yang meninggalkan luka menganga, yang kemudian menelantarkannya begitu saja.

Ia mengutuk dirinya sendiri yang dengan sukarela diperlakukan dengan begitu keji, ia pikir ia akan mati dan tak akan pernah bisa merasai lagi. Puluhan, ratusan, ribuan hari, hingga pada akhirnya ia terobati, dan menyembuh sendiri. Kemudian ia bersumpah untuk tak akan pernah jatuh lagi.

Dua Ratus Empat Puluh

Karena hanya Tuhan lah yang tahu seberapa besar usaha kita selama ribuan hari itu untuk menuju pulang, dan hanya Ia pula lah yang tahu bahwa rumah yang kita tuju ternyata tidaklah satu.

Pada akhirnya aku menerima, bahwa tidak ada kejadian yang tidak dapat kita ambil pelajarannya. Sebab itu, aku berterima kasih kepada Tuhan karena pernah menghadiahkanmu untukku.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa ketika Tuhan katakan tidak, Ia memang akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tak peduli berapa malampun kau habiskan waktumu membenturkan kening ke bumi sambil menyuarakan doa-doa yang sama.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa luka yang teramat dalam pun dapat menyembuh, dan perih yang teramat sangat pun pada akhirnya akan menguar bersamanya. Tak peduli berapa banyak waktu yang kau habiskan berlinang air mata dan berpikir mungkin kau tak akan pernah bisa merasa lagi.

Kini aku kembali menengadahkan kedua telapak tangan dengan penuh harap, bukan lagi membisikkan harapan yang sama, bukan lagi harapan yang selama ribuan hari belakangan ku lantunkan sambil terisak.

Hari ini aku pinta kepada Tuhan, semoga suatu saat nanti akan ada seseorang yang dapat mengerti kecintaanmu pada Arsenal, yang bisa memahami rasa sayangmu yang implisit, yang pipinya merona ketika kamu menatapnya dengan rasa kagum, yang tak rela melepas pelukanmu bahkan untuk sekedar menarik napas. Seperti aku, dua ratus empat puluh hari lalu.

Sembilan Puluh

Kepada laki-laki yang sembilan puluh hari belakangan masih kusenandungkan namanya, dalam rhapsody menyayat hati yang tercipta dari patahan-patahan hati itu sendiri, yang hingga detik inipun masih merintih, perih.

Aku memang telah menyerah untuk tetap berharap pada semesta, aku tak lagi merengek menyembah ibu bumi untuk menunjukkan jalanku menuju pulang, aku membiarkan lututku yang gemetar hebat tetap berjalan tak tentu arah, menuntunku menuju lubang yang sama di depan sana.

Aku kembali tersenyum sayang, memamerkan barisan gigi geligi yang tersusun tak beraturan, yang dulu sekali pernah kamu sukai meski aku benci setengah mati. Namun pada malam-malam yang dinginnya sangat kurang ajar seperti malam terkutuk ini, hanya memori tentangmu yang dimainkan oleh otakku yang gila ini, mengobrak abrik rasa yang telah aku simpan dalam-dalam yang kemudian membangkitkan sinyal nyeri hingga ke akar-akar hatiku.

Aku menangis, lalu menangis, dan menangis tak henti-henti nya hingga terlelap. Aku dihukum oleh semesta sayang, aku dihukum karena terlampau congkak, aku dikutuk karena terlalu jumawa, karena dulu aku pernah merasaimu teramat sangat hingga lupa akan semesta yang tak kunjung merestui.

Enam Puluh

Gadis itu menghadiahkan senyum terbaiknya kepada siapa saja yang ditemuinya, begitu ceria, tanpa guratan gundah di wajahnya, yang meskipun begitu tampak sedikit lelah.

Begitu kata mereka.

Nyatanya, di malam-malam menjelang sang fajar merekah ia bersimpuh menghadap Tuhannya, membenturkan kening ke bumi sembari membisikkan harap, sederhana saja, agar Tuhan mengangkat rasa yang mengakar kuat di dalam hatinya, yang kian mencekik tanpa memberikannya sedikitpun jeda untuk sekedar menarik napas.

Puluhan malam pun berlalu, ia pikir ia sudah cukup kuat untuk kembali menapaki semesta, berdamai dengannya. Namun tidak, semesta masih menghukumnya, mengutuknya dengan merajam permanen nama itu di hatinya, hingga enam puluh malam pun masih belum sanggup meredakan perih yang ditanggungnya.

Pulang

Kepada langit yang kerap menghujaniku dengan bulir-bulir menyakitkan yang dijatuhkannya tepat di atas kepalaku, kepada bumi yang memporak porandakan jejakmu, menyesatkanku menuju pulang.

Aku semestinya berhenti saja saat angin meniupkan hawa dinginnya hingga menggetarkan kedua lututku, aku harusnya berbalik arah ketika gemuruh petir menyambar jalan setapakku menuju pulang. Namun tidak, aku begitu keras kepala.

Kalian menang, aku menyerah.

Aku mendapati rumah itu kini redup dan dingin, seakan menyuruhku untuk segera pergi. Lalu aku pergi, tertatih, terisak perih berbalik memunggungi rumah yang tetap berdiri kokoh itu.

Kalian menang, aku menyerah.

Hal ini kemudian menyadarkanku bahwa rumah yang semula ku kira adalah tujuan akhirku tak lain hanyalah sebuah rumah singgah yang terlampau nyaman. Membuatku terlena dan tak tahu diri sehingga memutuskan untuk tetap tinggal hingga kehangatannya sirna.

Sampai pemilik rumah itu akhirnya pulang dan cahayanya kembali terang.

 

 

Seribu Sembilan Puluh Lima

Tepat tiga kali putaran bumi mengitari matahari.

Telah begitu banyak rasa yang aku lontarkan menuju sasarannya dan banyak pula yang telah aku terima dengan segala drama, aku tahu bahkan sedari awal bahwa aku tak akan lagi mengenang apa-apa yang telah menyakiti, tak lagi sudi membuang-buang waktu untuk mencari.

“Perjalanan pulang tidak pernah sebentar,” ujar salah seorang teman baik. Aku tersenyum mengiyakan. Namun bagiku bukan hanya perkara itu. Bagiku, perjalanan pulang adalah untuk dinikmati tanpa terburu-buru, kamu pun tahu. Hanya saja semakin aku mencoba, setiap tanjakan terasa amat melelahkan dan tiap tikungan terasa begitu mematikan. Setiap aku merasa semakin dekat semesta selalu menemukan cara untuk menyesatkanku, memutar balikkan arahku, menjauhkanku darimu.

Hingga pada hari ke seribu sembilan puluh lima, meski aku tahu semesta dan seisinya tak lagi memihak. Aku masih mencari jalan meski harus bersujud bersimbah air mata, memohon kepada ibu bumi untuk menuntunku pulang, menujumu.

Missed Connection

Belakangan aku ketahui, senjata yang lebih mematikan daripada bom nuklir sekalipun, adalah senyum yang dihadiahkan tanpa keraguan.

Agaknya saat itu semesta tengah mati kebosanan hingga ia memutuskan untuk bermain-main dengan dua manusia random yang sedang berjalan berlawanan arah di trotoar basah yang menguarkan bau hujan, pada hari minggu, di pinggiran kota yang penuh sesak oleh pejalan kaki dan deru kendaraan yang menyakitkan gendang telinga.

Mataku masih terpaku lekat pada buku yang sejak turun dari bus tadi masih kubolak-balik halamannya, aku berjalan sambil komat-kamit, menghindari orang-orang yang berjalan berlawanan arah tanpa kesulitan. Kata Ibu, itu adalah bakat yang telah ku asah sejak kecil, berjalan sambil membaca, lebih tepatnya, melakukan apapun sambil membaca.

Aku telah berada di paragraf terakhir halaman 512 ketika ekor mataku menangkap sebuah bayangan, aku menengadah, pada saat yang bersamaan lelaki itu memalingkan wajah dari telepon genggamnya, menatapku.

Ia berhenti selama sekian milidetik, tersenyum tanpa aba-aba, kemudian melanjutkan perjalannya kembali segera setelah aku tersadar dan membalas sapaan tersiratnya.

Semesta ini lucu, pikirku sambil menggelengkan kepala, kemudian aku mempercepat langkah sambil mendekap buku di dada, yang saat ini berdebar bak kesetanan.

A Perfectly Ruin Allegory

Terlambat, butir air mataku pecah sebelum aku mampu membalikkan badan, hening, bahkan tangisku pun tanpa isak. Kamu berdiri mematung untuk sepersekian detik lalu tanpa ragu berjalan hingga menjadi sebuah titik di kejauhan, bahkan tanpa melirik melalui sudut bahumu.

Sepenuhnya salahku, yang menghamba pada kita, dan pongahnya aku berharap untuk selamanya,karena dalam sekian milisekon kedipan mata, ribuan hari yang kita habiskan untuk menulis alegori sempurna tentang kita begitu saja menjadi reminisensi yang enggan untuk sekedar kita putar ulang, bukan perihal jengah, karena setiap bait nya begitu indah, hingga takut sekonyong-konyong aku akan berlari mengejarmu dan memohon kepadamu agar tidak begitu saja merela.

Lalu kalimat perpisahan mana yang lebih ironis dari “sampai jumpa nanti” yang aku ucap lamat-lamat dari bibirku yang bergemeteran hebat dan gigi geligi yang mengetuk keras, alih-alih kalimat klasik “selamat tinggal”? Bukan karena tak mau namun karena tak mampu, apa yang lebih menyakitkan daripada perpisahan semacam itu?

YOUphille

Aku pernah merasaimu teramat sangat dalam, umpama tartarus, yang bahkan dewa dewi pun tak tahu berapa ribu mil jauhnya dalam perut bumi, aku menghujanimu dengan banyak rasa yang kamu payungi dengan acuh, kemudian kamu berbalik memunggungiku yang hingga ratusan hari kemudian masih menatap kosong berharap kamu akan muncul kembali, meski hanya sepersekian detik dalam lapang pandangku. Namun aku terlalu naif.

Suatu ketika, dulu sekali.

Kini, ribuan hari setelah masa itu berita tentang dirimu melayang seringan debu masuk ke liang telingaku, menggelitik memori-memori masa lampau itu, kamu telah menjatuhkan hati, kabarnya. Setelah puluhan purnama aku pikir aku akan baik-baik saja, dungunya aku, nyatanya gadis yang dulu hanya bisa menatap punggungmu yang berjalan menjauh itu masih berdiri di tempat yang sama, tak pernah beranjak barang satu milimeterpun.

Aku masih merasaimu teramat sangat dalam, dengan debar yang sama, dan lara yang sama. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali itu, sejak kalimat perpisahan yang sekonyong-konyong keluar dari bibirmu menghantam tepat di dadaku, “kamu sangat baik, teramat baik” ujarmu sambil menarik seutas senyum pahit dan helaan nafas yang aku rasakan lebih berat dari biasanya.

Satu hal yang tak lagi aku lakukan adalah bertanya-tanya mengapa, tak lagi mencoba mencari tahu sebab apa-apa, tak lagi menjawab suara-suara menuduh yang bergaung dalam kepala. Pada akhirnya, aku tetap tak pernah mampu merela, sama halnya dengan melupa.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑