Dua Ratus Empat Puluh

Karena hanya Tuhan lah yang tahu seberapa besar usaha kita selama ribuan hari itu untuk menuju pulang, dan hanya Ia pula lah yang tahu bahwa rumah yang kita tuju ternyata tidaklah satu.

Pada akhirnya aku menerima, bahwa tidak ada kejadian yang tidak dapat kita ambil pelajarannya. Sebab itu, aku berterima kasih kepada Tuhan karena pernah menghadiahkanmu untukku.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa ketika Tuhan katakan tidak, Ia memang akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tak peduli berapa malampun kau habiskan waktumu membenturkan kening ke bumi sambil menyuarakan doa-doa yang sama.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa luka yang teramat dalam pun dapat menyembuh, dan perih yang teramat sangat pun pada akhirnya akan menguar bersamanya. Tak peduli berapa banyak waktu yang kau habiskan berlinang air mata dan berpikir mungkin kau tak akan pernah bisa merasa lagi.

Kini aku kembali menengadahkan kedua telapak tangan dengan penuh harap, bukan lagi membisikkan harapan yang sama, bukan lagi harapan yang selama ribuan hari belakangan ku lantunkan sambil terisak.

Hari ini aku pinta kepada Tuhan, semoga suatu saat nanti akan ada seseorang yang dapat mengerti kecintaanmu pada Arsenal, yang bisa memahami rasa sayangmu yang implisit, yang pipinya merona ketika kamu menatapnya dengan rasa kagum, yang tak rela melepas pelukanmu bahkan untuk sekedar menarik napas. Seperti aku, dua ratus empat puluh hari lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: