Sembilan Puluh

Kepada laki-laki yang sembilan puluh hari belakangan masih kusenandungkan namanya, dalam rhapsody menyayat hati yang tercipta dari patahan-patahan hati itu sendiri, yang hingga detik inipun masih merintih, perih.

Aku memang telah menyerah untuk tetap berharap pada semesta, aku tak lagi merengek menyembah ibu bumi untuk menunjukkan jalanku menuju pulang, aku membiarkan lututku yang gemetar hebat tetap berjalan tak tentu arah, menuntunku menuju lubang yang sama di depan sana.

Aku kembali tersenyum sayang, memamerkan barisan gigi geligi yang tersusun tak beraturan, yang dulu sekali pernah kamu sukai meski aku benci setengah mati. Namun pada malam-malam yang dinginnya sangat kurang ajar seperti malam terkutuk ini, hanya memori tentangmu yang dimainkan oleh otakku yang gila ini, mengobrak abrik rasa yang telah aku simpan dalam-dalam yang kemudian membangkitkan sinyal nyeri hingga ke akar-akar hatiku.

Aku menangis, lalu menangis, dan menangis tak henti-henti nya hingga terlelap. Aku dihukum oleh semesta sayang, aku dihukum karena terlampau congkak, aku dikutuk karena terlalu jumawa, karena dulu aku pernah merasaimu teramat sangat hingga lupa akan semesta yang tak kunjung merestui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: