Enam Puluh

Gadis itu menghadiahkan senyum terbaiknya kepada siapa saja yang ditemuinya, begitu ceria, tanpa guratan gundah di wajahnya, yang meskipun begitu tampak sedikit lelah.

Begitu kata mereka.

Nyatanya, di malam-malam menjelang sang fajar merekah ia bersimpuh menghadap Tuhannya, membenturkan kening ke bumi sembari membisikkan harap, sederhana saja, agar Tuhan mengangkat rasa yang mengakar kuat di dalam hatinya, yang kian mencekik tanpa memberikannya sedikitpun jeda untuk sekedar menarik napas.

Puluhan malam pun berlalu, ia pikir ia sudah cukup kuat untuk kembali menapaki semesta, berdamai dengannya. Namun tidak, semesta masih menghukumnya, mengutuknya dengan merajam permanen nama itu di hatinya, hingga enam puluh malam pun masih belum sanggup meredakan perih yang ditanggungnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: