Pulang

Kepada langit yang kerap menghujaniku dengan bulir-bulir menyakitkan yang dijatuhkannya tepat di atas kepalaku, kepada bumi yang memporak porandakan jejakmu, menyesatkanku menuju pulang.

Aku semestinya berhenti saja saat angin meniupkan hawa dinginnya hingga menggetarkan kedua lututku, aku harusnya berbalik arah ketika gemuruh petir menyambar jalan setapakku menuju pulang. Namun tidak, aku begitu keras kepala.

Kalian menang, aku menyerah.

Aku mendapati rumah itu kini redup dan dingin, seakan menyuruhku untuk segera pergi. Lalu aku pergi, tertatih, terisak perih berbalik memunggungi rumah yang tetap berdiri kokoh itu.

Kalian menang, aku menyerah.

Hal ini kemudian menyadarkanku bahwa rumah yang semula ku kira adalah tujuan akhirku tak lain hanyalah sebuah rumah singgah yang terlampau nyaman. Membuatku terlena dan tak tahu diri sehingga memutuskan untuk tetap tinggal hingga kehangatannya sirna.

Sampai pemilik rumah itu akhirnya pulang dan cahayanya kembali terang.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: