Aku pernah melayangkan sumpah serapah kepada semesta, bertanya-tanya mengapa ia melambungkan harapanku setinggi-tingginya, kemudian menghempaskannya dari ketinggian ribuan kaki. Lagi, dan lagi.

Suatu hari, dulu sekali.

Kini aku berterimakasih kepada Tuhan.

Yang mematahkan hatiku hingga menjadi kepingan-kepingan kecil, untuk kemudian ditemukan kembali olehmu yang menjadikannya kembali utuh.

Aku berterimakasih kepada Tuhan.

Yang melayangkan pukulan-pukulan maha dahsyat tanpa ampun, kemudian menyembuhkanku melalui perantara yang tak lain adalah kamu.

 

[usr 5]

Adakah yang Lebih Hebat Dari Hati Seorang Wanita?

Adakah yang lebih hebat dari hati seorang wanita?

Yang diciptakan begitu lembut hingga ia dapat merasai, namun tetap kuat meski telah disakiti berkali-kali.

Adakah yang lebih tegar dari hati seorang wanita?

Ketika ia tak ragu untuk bangkit kembali, meski telah dihajar melebihi ribuan kali kekuatan left uppercut Muhammad Ali.

Kini aku paham,

Bahwa hati yang hebat dan tegar itu tidak terbentuk dari perjalanan yang sederhana. Ia ditempa dari patahan-patahan yang meninggalkan luka menganga, yang kemudian menelantarkannya begitu saja.

Ia mengutuk dirinya sendiri yang dengan sukarela diperlakukan dengan begitu keji, ia pikir ia akan mati dan tak akan pernah bisa merasai lagi. Puluhan, ratusan, ribuan hari, hingga pada akhirnya ia terobati, dan menyembuh sendiri. Kemudian ia bersumpah untuk tak akan pernah jatuh lagi.

Dua Ratus Empat Puluh

Karena hanya Tuhan lah yang tahu seberapa besar usaha kita selama ribuan hari itu untuk menuju pulang, dan hanya Ia pula lah yang tahu bahwa rumah yang kita tuju ternyata tidaklah satu.

Pada akhirnya aku menerima, bahwa tidak ada kejadian yang tidak dapat kita ambil pelajarannya. Sebab itu, aku berterima kasih kepada Tuhan karena pernah menghadiahkanmu untukku.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa ketika Tuhan katakan tidak, Ia memang akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tak peduli berapa malampun kau habiskan waktumu membenturkan kening ke bumi sambil menyuarakan doa-doa yang sama.

Ribuan hari itu mengajarkanku. Bahwa luka yang teramat dalam pun dapat menyembuh, dan perih yang teramat sangat pun pada akhirnya akan menguar bersamanya. Tak peduli berapa banyak waktu yang kau habiskan berlinang air mata dan berpikir mungkin kau tak akan pernah bisa merasa lagi.

Kini aku kembali menengadahkan kedua telapak tangan dengan penuh harap, bukan lagi membisikkan harapan yang sama, bukan lagi harapan yang selama ribuan hari belakangan ku lantunkan sambil terisak.

Hari ini aku pinta kepada Tuhan, semoga suatu saat nanti akan ada seseorang yang dapat mengerti kecintaanmu pada Arsenal, yang bisa memahami rasa sayangmu yang implisit, yang pipinya merona ketika kamu menatapnya dengan rasa kagum, yang tak rela melepas pelukanmu bahkan untuk sekedar menarik napas. Seperti aku, dua ratus empat puluh hari lalu.

Sembilan Puluh

Kepada laki-laki yang sembilan puluh hari belakangan masih kusenandungkan namanya, dalam rhapsody menyayat hati yang tercipta dari patahan-patahan hati itu sendiri, yang hingga detik inipun masih merintih, perih.

Aku memang telah menyerah untuk tetap berharap pada semesta, aku tak lagi merengek menyembah ibu bumi untuk menunjukkan jalanku menuju pulang, aku membiarkan lututku yang gemetar hebat tetap berjalan tak tentu arah, menuntunku menuju lubang yang sama di depan sana.

Aku kembali tersenyum sayang, memamerkan barisan gigi geligi yang tersusun tak beraturan, yang dulu sekali pernah kamu sukai meski aku benci setengah mati. Namun pada malam-malam yang dinginnya sangat kurang ajar seperti malam terkutuk ini, hanya memori tentangmu yang dimainkan oleh otakku yang gila ini, mengobrak abrik rasa yang telah aku simpan dalam-dalam yang kemudian membangkitkan sinyal nyeri hingga ke akar-akar hatiku.

Aku menangis, lalu menangis, dan menangis tak henti-henti nya hingga terlelap. Aku dihukum oleh semesta sayang, aku dihukum karena terlampau congkak, aku dikutuk karena terlalu jumawa, karena dulu aku pernah merasaimu teramat sangat hingga lupa akan semesta yang tak kunjung merestui.

Enam Puluh

Gadis itu menghadiahkan senyum terbaiknya kepada siapa saja yang ditemuinya, begitu ceria, tanpa guratan gundah di wajahnya, yang meskipun begitu tampak sedikit lelah.

Begitu kata mereka.

Nyatanya, di malam-malam menjelang sang fajar merekah ia bersimpuh menghadap Tuhannya, membenturkan kening ke bumi sembari membisikkan harap, sederhana saja, agar Tuhan mengangkat rasa yang mengakar kuat di dalam hatinya, yang kian mencekik tanpa memberikannya sedikitpun jeda untuk sekedar menarik napas.

Puluhan malam pun berlalu, ia pikir ia sudah cukup kuat untuk kembali menapaki semesta, berdamai dengannya. Namun tidak, semesta masih menghukumnya, mengutuknya dengan merajam permanen nama itu di hatinya, hingga enam puluh malam pun masih belum sanggup meredakan perih yang ditanggungnya.

Pulang

Kepada langit yang kerap menghujaniku dengan bulir-bulir menyakitkan yang dijatuhkannya tepat di atas kepalaku, kepada bumi yang memporak porandakan jejakmu, menyesatkanku menuju pulang.

Aku semestinya berhenti saja saat angin meniupkan hawa dinginnya hingga menggetarkan kedua lututku, aku harusnya berbalik arah ketika gemuruh petir menyambar jalan setapakku menuju pulang. Namun tidak, aku begitu keras kepala.

Kalian menang, aku menyerah.

Aku mendapati rumah itu kini redup dan dingin, seakan menyuruhku untuk segera pergi. Lalu aku pergi, tertatih, terisak perih berbalik memunggungi rumah yang tetap berdiri kokoh itu.

Kalian menang, aku menyerah.

Hal ini kemudian menyadarkanku bahwa rumah yang semula ku kira adalah tujuan akhirku tak lain hanyalah sebuah rumah singgah yang terlampau nyaman. Membuatku terlena dan tak tahu diri sehingga memutuskan untuk tetap tinggal hingga kehangatannya sirna.

Sampai pemilik rumah itu akhirnya pulang dan cahayanya kembali terang.

 

 

Cinder

  • Judul: Cinder
  • Penulis: Marissa Meyer
  • Penerbit: Spring
  • Tahun terbit: 2015
  • Genre: Fantasi, dystopia
  • Halaman: 385

Processed with VSCO with c4 preset

Buku ini merupakan buku pertama dari lima seri Lunar Chronicle.

Mengambil setting di sebuah negara bernama New Beijing, pada era ketiga, yaitu masa setelah terjadinya perang dunia  ke empat. Wabah penyakit yang diberi nama Letumosis dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, mengecam seluruh penduduk bumi yang tak hanya terdiri dari manusia,namun juga cyborg dan android. Ditambah lagi bumi sedang berada di ujung tanduk karena ratu bulan sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Penduduk bulan dulunya adalah penduduk bumi yang kemudian pindah ke bulan, seiring waktu mereka mengalami perubahan sehingga dapat memanipulasi pikiran.

Cinder adalah seorang cyborg dan mekanik ternama di New Beijing, Cinder benci hidupnya, ia membenci ibu tirinya yang terlalu mengekangnya, ia benci manusia yang memandangnya dengan tatapan jijik. Hingga suatu kejadian membawanya pada kebebasan, dimulai dengan pertemuannya dengan pangeran Kai. Namun ternyata kebebasan itu bukanlah kebebasan yang selalu didambakannya, ia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan pangeran Kai akan membawanya terjebak ke dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan.

Buku ini menurut saya sangat menarik karena dapat membuat saya membayangkan akan apa-apa yang belum pernah saya lihat bahkan saya bayangkan sekalipun. Imajinasi si penulis mampu membuat saya terkagum-kagum akan deskripsinya tentang Bumi di masa depan. Cerita tentang perseteruan Bumi dan Bulan juga sangat menarik meskipun tidak (mungkin belum) diceritakan mengapa sang ratu Bulan membenci Bumi.

Karakter Cinder diambil dari  dongeng Cinderella, bukan hanya karakter namun juga plot yang kemudian disulap menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda namun tetap memiliki kemiripan dengan alur cerita Cinderella.

 

 

Eleanor and Park

  • Judul: Eleanor and Park
  • Penulis: Rainbow Rowell
  • Penerbit: St. Martin’s Griffin
  • Tahun terbit: 2013
  • Genre: Young Adult, Romance
  • Halaman: 325

IMG_0035_1462338437873-01[1]

Sudah siapkah kamu jika tiba-tiba kesadaranmu terbawa kembali ke masa akan cinta pertamamu? Kalau belum, sebaiknya jangan baca buku ini.

Bercerita tentang seorang gadis remaja yang baru saja pindah ke kota baru, Eleanor. Dengan gaya berpakaian yang asal dan rambut merah terang, ia langsung menjadi cemoohan teman-teman barunya di hari pertama dalam bus sekolah. Tepat sebelum Eleanor menangis karena tidak ada yang ingin duduk bersama anak baru, seorang laki-laki bergeser dari tempat duduknya untuk berbagi tempat, seorang anak Asia, Park.

Karakter Eleanor dibuat sangat pendiam, misterius, seolah menyimpan banyak penderitaan, meskipun berusia sekitar 14 tahun namun karakter Eleanor terkesan jauh lebih dewasa. Sebaliknya, Park selayaknya remaja laki-laki pada umumnya, yang seiring berjalannya waktu mulai memendam rasa suka kepada Eleanor namun ia bahkan tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan meskipun setiap hari duduk bersebelahan di bus sekolah dan bertemu di beberapa kelas.

Kisah cinta mereka dimulai dengan cara yang unik, dari berbagi komik sampai saling membuatkan  mixtape, khas romansa anak-anak muda pada tahun 1980an. Diceritakan dengan bahasa yang ringan meskipun menurut saya ceritanya datar sampai pada sepertiga akhir, namun kisah cinta Eleanor dan Park yang manis sukses membuat saya ingin membalikkan halaman lagi, dan lagi. Buku ini terasa begitu nyata, hingga seketika akan mengingatkanmu pada kisah cinta pertamamu, saat menyukai dengan diam-diam, jatuh cinta secara perlahan, hingga melakukan berbagai hal kecil yang romantis.

Namun bersiap-siaplah untuk kecewa karena ending dari novel ini tidak seperti apa yang diharapkan oleh pembacanya. Saya pribadi sedikit kecewa dengan akhir cerita Eleanor dan Park yang terkesan menggantung dan tidak jelas.

Seribu Sembilan Puluh Lima

Tepat tiga kali putaran bumi mengitari matahari.

Telah begitu banyak rasa yang aku lontarkan menuju sasarannya dan banyak pula yang telah aku terima dengan segala drama, aku tahu bahkan sedari awal bahwa aku tak akan lagi mengenang apa-apa yang telah menyakiti, tak lagi sudi membuang-buang waktu untuk mencari.

“Perjalanan pulang tidak pernah sebentar,” ujar salah seorang teman baik. Aku tersenyum mengiyakan. Namun bagiku bukan hanya perkara itu. Bagiku, perjalanan pulang adalah untuk dinikmati tanpa terburu-buru, kamu pun tahu. Hanya saja semakin aku mencoba, setiap tanjakan terasa amat melelahkan dan tiap tikungan terasa begitu mematikan. Setiap aku merasa semakin dekat semesta selalu menemukan cara untuk menyesatkanku, memutar balikkan arahku, menjauhkanku darimu.

Hingga pada hari ke seribu sembilan puluh lima, meski aku tahu semesta dan seisinya tak lagi memihak. Aku masih mencari jalan meski harus bersujud bersimbah air mata, memohon kepada ibu bumi untuk menuntunku pulang, menujumu.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑